Hadiahkan bacaan Alquran sebelum Ibu Wafat..

Sebuah kepiluan itu hadir bertubi-tubi tampak diwajahnya yang masih layu lemas menjelang ujung usianya. Dialah Ropiah, seorang janda berusia 59 tahun penderita kanker getah bening stadium 4 yang sudah pasrah dengan kondisi kesehatannya. Suaminya sudah menghadap Allah lebih dahulu sejak kecelakaan 30 tahun lalu. Ropiah sendiri sudah memiliki 5 anak yang semuanya sudah menjadi orang sukses.

Namun justru kesuksesan anak-anaknya tak pernah sedikitpun membuatnya bahagia. Ia dirundung kepiluan lantaran semenjak ia sakit kanker dan terbaring lemas ia tak pernah mendapati apa yang ia minta.

Permintaannya hanyalah hal sederhana yang barang kali orang tua lainya juga akan mendapatkanya. Apasih permintaan Ropiah ini? Dia ingin mendapati anak-anaknya yang sukses berada dekat disampingnya dan membacakan Alquran. Ya, Memang sebuah permintaan yang sederhana bagi seorang ibu yang sedang sakit dan terbaring lemas ialah mendengarkan lantunan ayat suci yang dibacakalan langsung oleh anak-anaknya.

Namun kenyataannya sungguh berbeda dengan yang diinginkannya. Karena tak ada satupun anaknya dari 5 anak yang sudah dibesarkannya yang membacakannya ayat Alquran. Justru yang ada adalah orang-orang lain yaitu tetangga dan saudaranya.

Anak-anaknya masih belum bisa pulang. Alasanya sangat klasik yaitu mereka semua masih sibuk. Mulai dari katanya masih sibuk dengan tugas pekerjaan yang menumpuk, ada juga yang katanya sedang perlu studi banding ke perusahaan lain, ada juga yang sedang melakukan riset pemasaran, sedang menyiapkan presentasi dengan kolega untuk investasi modal di perusahaannya dan ada juga yang katanya masih perlu memperbaiki layanan dan meningkatkan perusahaanya yang sedang bertumbuh pesat.

Begitu perih hati Ropiah, deras air matanya terus mengucur saat lantunan ayat suci terdengar ditelingaya.  Dia menginginkan yang membacakan ayat suci Al Quran tersebut harusnya adalah anak-anaknya sendiri. Bukan orang lain. Tapi anak-anaknya.

Hari-hari terbaring lemas itupun Ropiah jalani sambil sesekali menyebut nama anak-anak nya  karena 5 anak yang dibesarkannya justru kini tidak bersamanya disaat-saat dia dalam keadaan kritis. Pilu teramat sangat.

Sebagai orang tua, tentu kebahagian terbesar baginya adalah manakala anak-anaknya yang telah dibesarkannya bisa berbakti pada orang tuanya. Mau rela meninggalkan segala urusan apapun demi bisa membersamai orang tuanya dikala sedang sakit parah. Namun harapan itu tak berpihak pada diri Ropiah. Sepi jiwanya benar-benar sangat terasa meskipun nyatanya dia dibersamai dengan tetangga dan saudaranya yang selalu setia menjaga dan membantunya untuk segala urusan mulai dari menyuapi makan hingga membersihkan badannya.

Disuatu hari Ropiah mengalami keadaan yang sangat kritis. Ropiah pun memanggil Taslim, saudara laki-lakinya. Ia minta segera dihubungi anak-anaknya karena katanya usianya sepertinya sudah tidak lama lagi.

Menyanggupi permintaan Ropiah, Taslim pun segera bergegas dan mencari tau nomer telpon anak-anaknya yang belum pada pulang. Taslim geram mendapati keadaan yang sangat miris yang terjadi pada adik perempuanya itu. Namun Taslim juga tidak bisa bertindak banyak karena Taslim juga secara materi merupakan keluarga biasa-biasa saja.

Taslim tidak berani meminta nomer telepon ke Ropiah karena takut akan merepotkannya karena ia sendiri dalam keadaan kritis. Sehingga Taslim menanyakan kesana kemari. Alhamdulilah Taslim mendapatkan nomer salah satu anaknya yang pertama melalui ketua RT karena ada didata penduduk catatan sipil.

Segera Taslim menghubungi Ridwan, anak sulung Ropiah. Dia mengabarkan keadaan sesungguhnya yang terjadi pada diri Ropiah yang sepertinya sudah tidak lama lagi. Taslim meminta Ridwan menghubungi adik-adiknya juga untuk segera pulang dengan segala cara.

Ridwan masih saja berkilah katanya ada urusan penting dengan koleganya yang menyangkut nasib perusahaanya. Namun Taslim meyakinkanya untuk segera pulang dan memintanya untuk tidak terus memikirkan perusahaannya tapi pikirkan nasib ibunya yang seharusnya lebih penting dari segalanya.

Ridwan pun masih belum luluh, ia terus beralasan yang intinya tidak bisa pulang dalam Minggu ini karena sangat mendesak dan harus segera di tuntaskan demi kesalamat perusahaanya.

Taslim akhirnya marah-marah di telepon dan terus membujuk supaya segera pulang karena ibunya sendiri sudah ingin anak-anaknya berada didekatnya katanya sudah tak sanggup lagi lama bertahan. Dengan berpanjang lebar kata yang disampaikan Taslim. Akhirnya Ridwan pun luluh dan mengatakan akan segera pulang.

Ridwan pun menghubungi adik-adiknya, Aris, Ridho, Faisal dan Mutiara dan menyampaikan keadaan yang sedang terjadi kepada ibunya. Awalnya adik-adiknya berkilah untuk tidak bisa pulang juga. Tentu dengan alas an yang sama karena kesibukannya dengan urusan bisnis yang dibangunnya.

Karena pengaruh Ridwan sebagai kakak yang disegani, akhirnya adiknya pun memutuskan sepakat untuk pulang hari itu juga. Mereka janjian untuk pulang bersama-sama dan segera memesan tiket  pesawat supaya bisa cepat sampai kerumah.

Sementara itu, di bawah atap rumah Ropiah, Ropiah masih terbaring. Dia semakin kritis dan terus menyebut nama anak-anaknya satu persatu. Bertanya-tanya dimana mereka, kapan mereka pulang.

“Kapan?” Begitu kira-kira pertanyaanya yang gamang tak terucap dimulutnya. Sungguh sedih yang teramat sangat. Ketika sedang kritis-kritisnya justru anak-anaknya tak kunjung pulang. “Kapan anak-anaku pulang” tanya Ropiah kepada Taslim. “Sedang dalam perjalanan pasti pulang”

Begitu jawab Taslim sambil menggenggam tangan Ropiah yang masih bercucuran air mata kesedihan. “Kapan? Aku merasa sudah tidak sanggup lagi.”

Suasana rumah Ropiah penuh disesaki tetangga dan saudaranya yang berdatangan menjenguk Ropiah. Sebagian mereka bertanya-tanya dimana anak-anaknya, kenapa tidak ada dirumah, kenapa belum pada pulang. Ada banyak bermacam rupa pertanyaan.

Disaat-saat kritis itu tiba-tiba terdengar suara ketuk pintu dari depan. Taslim pun kedepan untuk membuka pintu. Dan ketika dibuka pintu itu, ternyata didepanya telah berdiri 5 orang mereka adalah Ridwan, Aris, Ridho Faisal dan Mutiara yang sudah lama ditunggu-tunggu kedatanganya. Mereka segera berpelukan penuh haru didepan pintu sambil terisak-isak.

“Mana ibu?” tanya Ridwan dan adik-adiknya kepada Taslim. “Ada dikamarnya, ayo masuk temui beliau” ucap Taslim sambil sesekali sesenggukan.

Dari depan pintu terdengar suara lantunan ayat suci Al quran yang terus sahut menyahut yang dibacakan tetangga dan saudaranya. Ridwan dan adik-adiknya pun segera bergegas menemui ibunya tersebut. “Ibuuu” tangis  kelima anaknya pun pecah sambil memeluknya.

Kondisi Ropiah sudah mulai tak sadarkan diri dan masih terbaring lemas. Wajah sayunya masih bergelayut. Air matanya pun masih mengguyur deras dipipinya. Namun anak-anaknya ingin sekali berbicara pada ibunya itu. “Ibu.. maafkan kami anak-anakmu yang tak berbakti ini” ucap Ridwan dengan tangis yang tersedu-sedu menyayat hati. “Ya bu, mohon maafkan kami ini” ke 4 adiknya ikut menyahut.

Kemudian, Romli tetangga nya menyodori 5 mushaf Alquran ukuran kecil kepada Ridwan dan adik-adiknya. “Bacakanlah ayat suci Alquran, ibu mu ingin sekali mendengarnya dari kalian langsung” begitu ucap Romli dengan.


Ridwan dan adik-adiknya menengok kearah Romli yang masih memegang 5 mushaf Alquran. Romli pun menunduk khawatir ke 5 anaknya tersinggung dengan perkataan Romli. “Baik pak terima kasih. Saya akan bacakan Alquran untuk ibu” ucap Ridwan antara ragu dan bimbang bercampur sedih. Ridwan tidak ingat kapan terakhir kalinya ia membaca Alquran. Ia hanya ingat saat terakhir adalah 15 tahun yang lalu saat akan merantau ke kota pertama kali. Ridwan masih belum percaya bahwa ia sudah lama sekali meninggalkan Alquran. Bahkan ia ragu apakah ia masih bisa membacanya atau tidak.

Sementara 4 adiknya justru menangis karena ia mengaku tidak bisa membaca Alquran. Semenjak kecil mereka tak pernah mau belajar membaca Alquran. Mereka lebih suka bermain hingga menginjak dewasa mereka belum sempat belajar memabaca Alquran mereka justru memutuskan ikut kakaknya merantau mencari penghidupan untuk memperbaiki nasib. Sungguh keadaan yang sangat miris dan membuat hati sedih karena disaat orang tua kita butuh dibacakan Ayat suci Alquran justru anak-anaknya tidak mampu mempersembahkanya.

Secara materi, bolehlah mereka disebut mapan. Namun kemapanan hati dan rohaninya sepertinya masih jauh dari mapan. Jiwa miskin dari bacaan Alquran dikarenakan tergeser dari kepentingan dunia yang membutakan hatinya. Jiwanya kosong dan terenggut dari haknya untuk dipelahara salah satunya dengan membiasakan diri membaca Alquran.

Dalam keadaan kritis itu pun, Ridwan mulai membuka mushafnya, sementara 4 adiknya hanya bisa menagis menyesali diri karena tidak bisa membaca Alquran sama sekali padahal hatinya ingin sekali membacakannya untuk ibunya diujung usianya. Namun apalah daya, layar sudah terkembang, nasi sudah menjadi bubur, hanya tangisan penyesalan yang menjadi pelampiasan dari kekecewaan hati mereka.

Ridwan bingung, membuka mushafnya apakah dari kanan atau dari kiri. Tampak tangannya sangat gemetar. 17 tahun tidak membaca Alquran telah membuat Ridwan lupa bagaimana cara membuka Alquran apakah dari kiri atau dari kanan. Hal itulah yang membuat sesak didada Ridwan. Ia tampak kebingunan, air matapun menitik di Mushaf. Romli, tetangganya. Melihat hal itu, dan membantunya membukakan mushaf Alquran dan memberikannya kepada Ridwan.

Air mata merembas begitu basah dipipinya, ia trenyuh dengan dirinya sendiri. Sungguh dia merasa dalam kepayahan yang sangat nyata. Di perusahaanya, bolehlah dia dihargai, dihormati karena sebagai pimpinan perusahaan. Tapi kini ia merasa payah karena bahkan membaca Alquran saja harus dibantu dibukanan bagian halaman awalnya.

Saat itu, adik-adiknya masih saja menangis dipangkuan ibunya. Sementara Ridwan memutuskan untuk mulai membacanya. Didepanya telah tampak surat Alfatihah tepat dihalaman depan Alquran yang ia buka. Hatinya gemetar. Dia merasa pernah membaca surat tersebut. Ya, terakhir kali adalah 17 tahun yang lalu. Tapi bagaimana cara membunyikannya? bagaimana cara membacanya? Tangan Ridwan gemetar… ia takut, ia bimbang dan ia ragu. Dia takut karena dirinya sudah lama sekali jauh dari membaca Alquran, ia bimbang karena keadaanya yang masih kesulitan membaca Alquran dan Ia kecewa karena dirinya hanya mengutamakan mengejar ilmu dunia dari pada ilmu akhirat.

“Anak-anaku, dimana kalian” suara Ropiah tiba-tiba muncul. Ropiah telah siuman, “Kami disini bu,” ucap Ridwan dan adik-adiknya secara bersamaan.

“Ibu sudah tenang kalian disini, sekarang ibu sudah saatnya pamit” ucap Ropiah terbata-bata dan berat. Tampak wajahnya pusat, bibirnya kelu.

“Tolong bimbing saya bersyahadat” pinta Ropiah kepada anak-anaknya.

Segera anak-anaknya mendekat dan memeluk tangannya sambil penuh isak. Mereka sangat takut jika harus ditinggalkan orang tua satu-satunya yang telah membesarkanya itu.


“Baik Bu, ikuti Ridwan” ucap Ridwan mencoba tegar meskipun masih dengan penuh rasa perih dan sedih.

“Sekarang anaku, segera!!.” Ucap Ropiah makin berat dan kelu.

Anak-anaknya makin erat memegang tangannya, Ridwan mendekat di telinganya. Bersiap mentalqin ibunya dengan syahadat. Penyucian akidah kembali saat akan menhadap sang pemilik segalanya.

 Saat-saat itu adalah saat yang penuh dengan kepiluan. Saat yang penuh dengan rasa lara dan duka mendalam.

“Asy Haddu An Laa ” Ucap Ridwan ditelinga ibunya denga penuh sesak..pilu

“Asy Haddu An Laa” Ropiah mengikuti..

“I lla ha illallah” Lanjut Ridwan masih dengan tangis perihnya.

““I lla ha illallah” Ropiah mengikuti, kali ini dengan suara yang sangat berat dan tampak kesakitan. Gurat keningnya terlihat dan urat lehernya pun tampak tegang.

“Wa Asy Hadu Ana” Ridwan melanjutkannya sambil menangis meremas jemari ibunya .


Sementara tangis adik-adiknya pecah sejadi-jadinya. Rumah itu puna penuh tangis saudara dan kerabatnya yang menyaksikan saat-saat penuh pelajaran berharga ini.

“Wa Asy Hadu Ana” Ropiah menahan sakit yang teramat sangat, terlihat dari kerutan keningnya dan mulutnya yang tampak menahan…

“Muhammada Rosulullah” ucap Ropiah sambil menahan sakitnya ditenggorakan, berat sekali…sebelum akhirnya Ropiah menghembuskan nafas terakhirnya dengan keadan tenang dan wajah tersenyum.

“Ibuuuu…” jerit tangis Ridwan dan adik-adiknya

Seandainya bisa, buatlah orang disekitar kita tersenyum bahagia ketika lahirya kita dan buatlah mereka menangis sementara kita tersenyum saat tutup usia.

Begitulah kenisayaan hidup, hidup akan meninggalkan kehidupan itu sendiri. Bahwa yang bernyawa akan mengalami yang namanya kematian. Sepandai-pandainya manusia menghindari kematian meskipun hingga masuk ke lubang semut sekalipun, percayalah malaikat maut akan mampu menghampiri kita.

Dari kisah diatas, kita dapatkan banyak pelajaran bahwa, Sebagai anak patutlah seharusnya kita berbakti pada kedua orang tua terutama ibu. Kita juga harus tau bahwa ilmu agama itu sangat penting, bahkan lebih penting dari pada dunia dan seisinya.

Mulai sekarang azamkan diri kita supaya bisa membaca Alquran. Setelah bisa membaca Alquran, selanjutnya adalah membacanya. Syukur-syukur bisa menghafalkannya dan memahmi isi serta mempraktekan isinya.

Jangan sampai kita sebagai umat islam tidak bisa membaca Alquran, karena sekarang ilmu belajar membaca Alquran sangatlah mudah. Misalnya ada Metode Rubaiyat yang bisa Anda pesan di www.metoderubaiyat.com yang terbukti 4 jam belajar, sudah bisa membaca Alquran meskipun dari nol.

Bantu bagikan kisah ini ya…sebarkan ke semua umat muslim dengan klik tombol sosial media dibawah ini.

PENTING: Jika saat ini Anda belum bisa baca Al Quran meskipun dari Nol, atau Anda sudah bisa baca namun masih belum lancar, Saat ini kami Punya METODE RUBAIYAT sebagai Solusinya yang hingga Januari 2019 Alhamdulilah sudah dipercaya dan terjual lebih dari 44. 563 Paket di seluruh Indonesia dan Insya Allah akan terus bertambah. Untuk Mendapatkan paket Panduan METODE RUBAIYAT yang original dan selalu versi terbaru. Silakan bisa langsung akses DISINI atau WA 0819-0259-3977 (Sedang Ada promo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here